Hampir setiap toko yang kami temui sudah punya catatan. Masalahnya bukan tidak mencatat, melainkan catatan yang tidak saling berbicara: penjualan di struk, stok di kartu stok, utang ke pemasok di buku, dan piutang pelanggan di kepala pemiliknya. Setiap akhir bulan ketiganya dijumlahkan ulang dengan tangan, dan selisih yang muncul tidak pernah benar-benar dicari sebabnya karena mencarinya terlalu mahal.
dKasir menyatukannya pada satu titik: transaksi. Satu penjualan yang diselesaikan di kasir langsung mengurangi stok, menambah kas laci, dan menghitung laba kotornya dari harga beli yang tersimpan saat barang itu diterima. Tidak ada langkah kedua yang bisa terlewat, karena tidak ada langkah kedua.
Sisanya adalah akibat dari keputusan itu. Kalau kasir adalah satu-satunya tempat angka lahir, kasir tidak boleh berhenti — karena itu ada mode offline. Kalau kas laci dihitung dari transaksi, uang yang bergerak di luar penjualan harus punya tempatnya sendiri — karena itu ada pencatatan kas. Kalau angka bisa salah, harus ada cara menelusuri siapa mengubah apa — karena itu ada log aktivitas.